Makna Simbolik Mahar dan Seserahan Dalam Pernikahan Suku Mandar di Desa Pambusuang Kabupaten Polewali Mandar

No Thumbnail Available
Date
2026-09-29
Authors
Dyah Intizharah
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Repository STAIN Majene
Abstract
ABSTRAK Nama : Dyah Intizharah NIM : 30356121039 Program Studi : Komunikasi dan Penyiaran Islam Judul : Makna Simbolik Mahar dan Seserahan Dalam Pernikahan Suku Mandar di Desa Pambusuang Kabupaten Polewali Mandar Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemahaman terhadap makna simbolik dalam tradisi mahar dan seserahan pada pernikahan adat Suku Mandar di Desa Pambusuang sebagai bagian dari praktik budaya yang mengandung nilai sosial dan kultural yang kompleks, namun kajian yang membahas makna simbolik dalam perspektif semiotik sosial masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik dalam tradisi tersebut dengan menggunakan pendekatan semiotik sosial M.A.K. Halliday yang berfokus pada field, tenor, dan mode. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui simbol, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahar yang berwujud real (mata uang asing), emas, dan seperangkat alat salat, serta seserahan terdiri dari buah-buahan, doi paccanring (uang atau harta sebagai syarat pernikahan), cincin, beras, terigu, gula merah, minyak, kappu bunga (bunga yang dibungkus dengan kain), sitto (tempat uang/emas yang terbuat dari kertas putih), masi-masigi (miniatur masjid yang terbuat dari kayu), lemari dan isinya hingga paindo passorong (jenis tumbuhan yang hidup dalam jangka waktu lama), tidak hanya dimaknai sebagai pemberian material, tetapi juga sebagai simbol identitas, tanggung jawab, dan kehormatan antar keluarga, serta mengandung nilai sosial, budaya, dan relasi interpersonal yang terstruktur. Prosesi ini melibatkan berbagai pelibat sosial, seperti keluarga mempelai, tokoh agama, dan masyarakat, yang membentuk struktur komunikasi budaya melalui penyampaian makna secara lisan dan simbolik melalui benda-benda adat. Tradisi pemberian mahar dan seserahan dalam masyarakat Mandar tidak hanya berfungsi secara ekonomi, sosial, dan spiritual, tetapi juga merepresentasikan sistem makna yang terstruktur melalui konteks aktivitas budaya (field), relasi sosial (tenor), serta medium penyampaian simbolik (mode), sehingga berperan dalam mempertahankan dan mentransmisikan nilai-nilai budaya antar generasi. Kata Kunci: Semiotika Sosial, Mahar, Seserahan, Budaya, Identitas
Description
Keywords
Citation