Pencegahan Stunting dalam QS. al-Baqarah/2: 233 (Studi Komparatif Tafsīr al-Miṣbāḥ dan Tafsīr al-Jawāhir)
Pencegahan Stunting dalam QS. al-Baqarah/2: 233 (Studi Komparatif Tafsīr al-Miṣbāḥ dan Tafsīr al-Jawāhir)
No Thumbnail Available
Date
2026-05-24
Authors
Arham
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Repository STAIN MAJENE
Abstract
Nama
NIM
Program Studi
Judul
:
:
:
:
Arham
30156120002
Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Pencegahan Stunting dalam QS. al-Baqarah/2: 233 (Studi
Komparatif Tafsīr al-Miṣbāḥ dan Tafsīr al-Jawāhir)
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang memengaruhi pertumbuhan
fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas sumber daya manusia. Dalam Islam,
pemenuhan gizi anak mendapat perhatian khusus sebagaimana tercantum dalam QS.
al-Baqarah/2: 233 tentang anjuran menyusui selama dua tahun dan tanggung jawab
orang tua terhadap kebutuhan anak. Penelitian ini membandingkan Tafsīr al-Miṣbāḥ
karya M. Quraish Shihab dan Tafsīr al-Jawāhir karya Ṭanṭāwī Jauharī karena
keduanya memiliki corak penafsiran yang saling melengkapi. Tafsīr al-Miṣbāḥ
menekankan pendekatan kontekstual dan humanistik yang relevan dengan persoalan
sosial, sedangkan Tafsīr al-Jawāhir menonjolkan pendekatan ilmiah yang berkaitan
dengan kesehatan dan pertumbuhan anak. Perbandingan keduanya diharapkan
memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pencegahan stunting
dalam perspektif al-Qur‟an.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian
kepustakaan (library research) dan pendekatan komparatif (muqāran). Data primer
diperoleh dari Tafsīr al-Miṣbāḥ dan Tafsīr al-Jawāhir, sedangkan data sekunder
berasal dari buku, jurnal, dan sumber ilmiah relevan lainnya. Data dianalisis secara
deskriptif-komparatif dengan membandingkan penafsiran kedua mufasir terhadap QS.
al-Baqarah/2: 233 untuk mengetahui persamaan, perbedaan, dan relevansinya dalam
pencegahan stunting masa kini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tafsir sama-sama menekankan
pentingnya pemberian ASI selama dua tahun dan tanggung jawab orang tua dalam
memenuhi kebutuhan gizi anak sebagai upaya pencegahan stunting. Tafsīr al-Miṣbāḥ
lebih menonjolkan peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak,
sedangkan Tafsīr al-Jawāhir menekankan manfaat biologis ASI bagi pertumbuhan
optimal. Kedua tafsir menunjukkan bahwa ajaran al-Qur‟an relevan sebagai landasan
normatif dan ilmiah dalam pencegahan stunting.
Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai dalam QS. al
Baqarah/2: 233 dapat menjadi landasan dalam membangun kesadaran keluarga
tentang pentingnya pemenuhan gizi anak sejak dini melalui pemberian ASI secara
optimal. Integrasi nilai keagamaan dan pendekatan ilmiah juga dapat memperkuat
upaya pencegahan stunting melalui edukasi keluarga dan kebijakan kesehatan
masyarakat.
Kata Kunci: Stunting, ASI, Gizi, M. Quraish Shihab, Ṭanṭāwī Jauhar