Pesan Dakwah dalam Tradisi Meuri’ pada Masyarakat Tammerodo Majene (Tinjauan Semiotika Roland Barthes)
Pesan Dakwah dalam Tradisi Meuri’ pada Masyarakat Tammerodo Majene (Tinjauan Semiotika Roland Barthes)
No Thumbnail Available
Date
2026-07-24
Authors
Muh. Ali Marwan
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Repository STAIN Majene
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi
meuri’ pada masyarakat Desa Tammerodo, Kecamatan Sendana, Kabupaten
Majene, serta mengkaji makna pesan dakwah yang terkandung di dalamnya.
Tradisi meuri’ merupakan ritual selamatan kehamilan yang dilaksanakan sebagai
bagian dari kehidupan adat dan keagamaan masyarakat setempat.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif lapangan dengan pendekatan
interpretatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan tokoh adat,
tokoh agama, tokoh masyarakat, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan
dengan menggunakan semiotika Roland Barthes dengan fokus pada makna
denotatif, konotatif, dan mitos.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan tradisi meuri’
dimulai dari persiapan perlengkapan adat, pembacaan doa-doa tertentu, hingga
kegiatan makan bersama sebagai penutup acara. Setiap tahapan dan simbol yang
digunakan memiliki makna tersendiri yang berkaitan dengan pesan dakwah. Pesan
tersebut mencakup nilai akidah, seperti kepercayaan dan ketergantungan kepada
Allah Swt., nilai syariat yang tampak dalam praktik doa, serta nilai akhlak berupa
kepedulian sosial, rasa syukur, dan penguatan hubungan kekeluargaan. Pada
tingkat mitos, tradisi meuri’ dipahami masyarakat sebagai upaya memohon
keselamatan dan keberkahan bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya.
Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi meuri’ berfungsi
sebagai media dakwah kultural yang menyampaikan nilai-nilai Islam secara
sederhana dan dekat dengan masyarakat. Oleh karena itu, tradisi ini perlu
dipahami dan dilestarikan agar tidak berhenti pada praktik seremonial semata.
Kata Kunci: Pesan Dakwah, Tradisi Meuri’, Semiotika Roland Barthes, Dakwah
Kultural, Masyarakat Mandar.