RESEPSI MASYARAKAT BINAREJO TERHADAP AYAT-AYAT TOLAK BALA DALAM TRADISI BARITAN SUKU JAWA DI BINAREJO DESA BANATO REJO KEC. TAPANGO KAB. POLEWALI MANDAR

No Thumbnail Available
Date
2025-02-20
Authors
PUTRI INDAH SARI
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Repository STAIN Majene
Abstract
Manusia tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan, karena keduanya merupakan satu-kesatuan yang saling berhubungan. Kebiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang sering disebut sebagai tradisi. Sebagai contoh, Tradisi Baritan (terkait bulan Sura dalam sistem kalender Islam Jawa), merupakan tradisi berbentuk asimilasi antara budaya Jawa dengan budaya Islam. Selain menjadi wadah dalam mempererat silahturahim juga sebagai bentuk kesyukuran serta permohonan perlindungan kepada Allah Swt. dari mara bahaya dan sedekah kepada sesama masyarakat setempat. Di sini resepsi al-Qur’an dapat diwujudkan dalam fenomena sosial budaya al-Qur’an di masyarakat. Dalam praktiknya bisa dengan dibaca, didengarkan, dituliskan, dipakaikan, bahkan ditempatkan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif untuk mengetahui bagaimana prosesi tradisi Baritan di Binarejo dan bagaimana proses masyarakat dalam meresepsi ayat-ayat tolak bala dalam tradisi Baritan suku Jawa. Sumber data penelitian ini adalah, tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi pastisipasi, dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Berdasarkan pada hasil penelitian dari prosesi tradisi Baritan di Binarejo dimulai dengan pembacaan hajat serta memohon pengampunan, dilanjutkan dengan pembacaan surah al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, al-Nas, do’a tolak bala dan pembagian takir plontang yang disimbolkan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Binarejo kepada Allah Swt. dan juga sebagai bentuk sedekah antar sesama masyarakat agar setiap masyarakat yang hadir dapat merasakan rezeki yang Allah Swt. berikan. Adapun proses resepsi masyarakat terhadap ayat-ayat tolak bala dalam al-Qur’an melalui tradisi Baritan, dalam hal ini dapat dikategorikan sebagai resepsi eksegesis al-Qur’an mulai dari dibaca, dipahami, dan diajarkan namun pengajarannya ini dilakukan untuk menggali kebahagian, keberkahan, dan ketenangan hidup. Hal ini merujuk pada makna dari pelaksanaan kegiatan ini. Secara resepsi fungsional, al-Qur’an diterima dengan memfungsikan atau membacakan ayat-ayat syukur yang diposisikan sebagai media untuk ungkapan rasa syukur, permohonan, pengampunan, dan perlindungan. Implikasi dari penelitian ini adalah: menambah hazamah pengetahuan atau referensi, menambah khazanah, menumbuhkan cinta dan peduli terhadap tradisi tradisi sebagai suatu kebudayaan, mengingatkan untuk selalu memohon perlindungan hanya kepada Allah Swt, menjaga silahturahim, dan bersedekah.
Description
Keywords
Citation