Kedudukan Khulu’ yang Disebabkan Oleh dalam Perspektif Imam Syafi’i dan Imam Hambali
Kedudukan Khulu’ yang Disebabkan Oleh dalam Perspektif Imam Syafi’i dan Imam Hambali
| dc.contributor.author | Muhammad Tasbih | |
| dc.date.accessioned | 2026-06-08T03:47:22Z | |
| dc.date.available | 2026-06-08T03:47:22Z | |
| dc.date.issued | 2026-06-08 | |
| dc.description.abstract | Nama : Muhammad Tasbih Nim : 20156122024 Program Studi : Hukum Keluarga Islam Judul : Kedudukan Khulu’ yang Disebabkan Oleh dalam Perspektif Imam Syafi’i dan Imam Hambali Khulu’ merupakan salah satu bentuk pemutusan perkawinan yang diajukan oleh istri, namun kedudukannya dalam hukum Islam masih menjadi perdebatan di kalangan ulama, khususnya terkait apakah khulu’ dikategorikan sebagai talak atau fasakh. Perdebatan ini menjadi semakin relevan ketika khulu’ diajukan akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), karena berimplikasi langsung pada perlindungan hukum terhadap korban. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses istinbāṭ hukum Imam Syafi‘i dan Imam Hambali yang melatarbelakangi perbedaan pandangan keduanya mengenai kedudukan khulu’, serta menawarkan alternatif pengkategorian khulu’ yang lebih adil dalam konteks KDRT. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan teologi normatif syar‘i dan maslahah mursalah. Data diperoleh dari kitab-kitab fiqhi mu‘tabar karya Imam Syafi‘i dan Imam Hambali serta literatur pendukung lainnya, yang dianalisis secara kualitatif-deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam Syafi‘i memposisikan khulu’ sebagai talak karena menekankan peran kehendak suami, kesamaan lafaz, dan konsekuensi hukum talak bā’in, sedangkan Imam Hambali memandang khulu’ sebagai fasakh karena tidak mengandung lafaz dan niat talak serta didorong oleh sebab yang merusak tujuan perkawinan. Melalui pendekatan maslahah mursalah, penelitian ini menyimpulkan bahwa khulu’ yang disebabkan oleh KDRT lebih tepat dikualifikasikan sebagai fasakh karena lebih efektif menghilangkan kemudaratan dan melindungi korban. Kebaharuan penelitian ini terletak pada tawaran rekonstruksi konseptual khulu’ berbasis sebab, dengan menegaskan bahwa khulu’ sebab KDRT secara takyif fiqhi lebih tepat diposisikan sebagai fasakh demi mewujudkan keadilan substantif dan perlindungan terhadap kelompok rentan dalam hukum keluarga Islam. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti mengusulkan pembagian khulu’ berdasarkan masalah yang terjadi dalam rumah tangga, yaitu antara khulu’ karena ketidakharmonisan biasa dan khulu’ yang terjadi akibat kekerasan atau bahaya serius. Khusus untuk khulu’ yang disebabkan oleh KDRT, hal ini lebih tepat dipahami sebagai fasakh, karena sejalan dengan tujuan syariat, terutama untuk melindungi jiwa dan martabat manusia. Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi hakim di peradilan agama dalam membuat putusan yang lebih adil, tidak hanya secara hukum, tetapi juga secara kemanusiaan. Kata Kunci: Khulu’, Talak, Fasakh, dan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). | |
| dc.identifier.uri | https://repository.stainmajene.ac.id/handle/123456789/1527 | |
| dc.publisher | Repository STAIN MAJENE | |
| dc.title | Kedudukan Khulu’ yang Disebabkan Oleh dalam Perspektif Imam Syafi’i dan Imam Hambali | |
| dc.type | Undergraduate Thesis | |
| dspace.entity.type |
Files
Original bundle
1 - 1 of 1
No Thumbnail Available
- Name:
- MUHAMMAD TASBIH_20156122024_HKI. - Muhammad Tasbih.pdf
- Size:
- 1.1 MB
- Format:
- Adobe Portable Document Format
- Description:
License bundle
1 - 1 of 1
No Thumbnail Available
- Name:
- license.txt
- Size:
- 1.71 KB
- Format:
- Item-specific license agreed to upon submission
- Description: