Skripsi Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 91
  • Item
    Term “Intas{ara” Sebagai Konsep Pembelaan Diri Dalam Perspektif Al-Qur’an
    (Repository STAIN MAJENE, 2026-07-24) Jum Yuliana Sahir
    Tindak kriminal seringkali muncul tanpa bisa diduga. Berbagai bentuk kejahatan seperti pencurian, pelecehan, pembegalan, atau rencana pembunuhan. Tentunya setiap individu berharap tidak pernah mengalami hal tersebut. Akan tetapi, jika seseorang dihadapkan pada situasi yang mengancam keselamatan diri, ajaran Islam memperbolehkan 20 untuk melakukan pembelaan diri. permasalahan tersebut mencakup aspek personal hingga manual, termasuk dalam konteks hak asasi manusia dalam interaksi sosial, berbangsa dan bernegara. Berdasakan dari uraian sebelumnya, penelitian ini dijawab oleh penulis dengan menggunakan metode tafsir tematik. Sebab dengan metode tersebut berfokus pada satu Term yaitu kata “Intas}ara” yang berkaitan dengan konsep pembelaan diri atau satu pokok pembahasan yang kemudian dibahas secara mendalam dengan menggunakan ayat al- Qur’an yang berkaitan dengan tema tersebut. Sehingga dalam penelitian ini berfokus pada tema pembelaan diri dalam al-Qur’an yang menggunakan langkah-langkah yang ditawarkan oleh M. Chirzin. Jenis penelitian ini adalah penelitian Kualitatif atau kepustakaan. Penelitian ini bersumber dari kitab-kitab tafsir, buku, artikel, penelitian terdahulu, dan lainnya yang terkait dengan penelitian. Kemudian dari data yang didapat, dikumpulkanlah ayat yang terkait dengan tema kemudian dibahas, dianalisis, dan dipahami dengan baik serta memberikan kesimpulan terkait tema yang dikaji. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ayat yang terkait dengan term Intas}ara disebutkan sebanyak sembilan kali dalam al- Qur’an. Namun yang berkaitan dengan pembelaan diri terdapat empat ayat yaitu dalam QS Al-Qama>r/54:10, QS Al-Syu>ra>/ 42: 39 dan 41, QS Al-Syu‘ara>‘/26:227. Dari hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ayat tersebut memberikan dasar hukum dan contoh pembelaan diri, mulai dari pertahanan fisik, permohonan bantuan kepada Allah, hingga melawan kezaliman dengan kata-kata atau syair. Prinsip ini menunjukkan bahwa umat Muslim harus mempertahankan martabat dan kehormatan diri mereka, tidak tunduk pada penindasan, dan menegakkan keadilan dengan mengandalkan pertolongan Allah swt. Implikasi utama dari konsep ini adalah bahwa umat Muslim tidak boleh pasif atau tunduk pada kezaliman. Pembelaan diri yang dimaksud tidak hanya mencakup tindakan reaktif terhadap serangan fisik, tetapi juga dimensi yang lebih luas seperti menegakkan keadilan, mempertahankan martabat, dan kehormatan diri sebagai orang beriman. Meskipun Islam melegitimasi perlawanan yang setimpal, konsep ini juga menekankan batasan moral dan keadilan, pembalasan tidak boleh berlebihan atau melampaui batas yang wajar. Kata Kunci: Term, Pembelaan Diri, Al-Qur’an
  • Item
    “Resepsi Jamaah Tabligh Terhadap QS Ali ‘Imra>N/3:110 Dan Relevansinya Dengan Khuru>J Di Kecamatan Ulumanda Kabupaten Majene”
    (Repository STAIN MAJENE, 2026-06-16) Wisar
    Nama : Wisar NIM : 30156120033 Program Studi : Ilmu A-Qur’an dan Tafsir Judul : “Resepsi Jamaah Tabligh Terhadap QS Ali ‘Imra>N/3:110 Dan Relevansinya Dengan Khuru>J Di Kecamatan Ulumanda Kabupaten Majene” Skripsi ini berjudul “Resepsi Jamaah Tabligh Atas QS Ali ‘Imra>n/3:110 dan Relevansinya Dengan Khuru>j di Kecamatan Ulumanda Kabupaten Majene.” Penelitian ini mengkaji resepsi Jamaah Tabligh terhadap QS Ali ‘Imra>n/3: 110 dalam konteks praktik khuru>j di wilayah Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene. Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan dalam bentuk living qur’an yang menggunakan pendekatan teori resepsi dan fenomenologi. Melalui pendekatan tersebut, peneliti berupaya menggali secara mendalam pemaknaan serta pengalaman subjek terhadap teks suci dalam realitas kehidupan sehari-hari. Data primer dalam penelitian ini diperoleh secara langsung melalui wawancara, observasi partisipatif di lapangan,serta studi dokumentasi yang relevan. Seluruh data yang telah terkumpul dianalisis secara kritis dan diuji kebsahannya menggunakan teknit triangulasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa resepsi QS Ali ‘Imra>n/3: 110 oleh Jamaah Tabligh dipahami sebagai panggilan untuk menjadi umat terbaik melalui praktik dakwah yang konsisten, sederhana, dan konfrontatif. Praktik khuru>j diposisikan sebagai bentuk aktualisasi QS Ali ‘Imra>n/3: 110 yang tidak hanya bersifat spritual tetapi juga sosial. Praktik ini menunjukkan adanya sintesis antara pemahaman tradisional dan respon terhadap realitas sosial. Temuan pada penelitian ini memiliki implikasi penting dalam pengembangan studi al-Qur’an khususnya pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an oleh masyarakat lokal, hasil kajian ini menegaskan bahwa pemahaman terhadap teks tidak bersifat statis, melainkan hidup dan berkembang melalui intraksi sosial yang kompleks di tengah masyarakat. Adanya sintetis antara nilai tradisional dan respon terhadap realitas modern menunjukkan fleksibilitas praktik keagamaan dalam bingkai kearifan lokal. Kata kunci: Jamaah Tabligh, living qur’an, resepsi, fenomenologi, QS Ali ‘Imra>n/3: 110.
  • Item
    Pola Pengasuhan Gifted Children dalam al-Qur’an Se- buah Kajian Tematik Kontekstual).
    (Repository STAIN MAJENE, 2026-06-15) Aisyah
    Nama : AISYAH NIM : 30156119071 Program Studi : Ilmu al-Qur‟an dan Tafsir Judul : Pola Pengasuhan Gifted Children dalam al-Qur’an Se- buah Kajian Tematik Kontekstual). Permasalahan gifted children merupakan permasalahan yang kompleks sampai saat ini, terutama dalam penerapan pola pengasuhannya. Meskipun sudah banyak penelitian dan orang-orang yang konsern terhadap gifted children, namun faktanya masih banyak masyarakat khususnya kaum marginal yang belum paham tentang gifted children sehingga hal ini membuat gifted children tetap menjadi sebuah permasalahan yang belum tertangani dengan baik. Melihat fakta tersebut, penulis dalam penelitian akan menguraikan tentang bagaimana pola pengasuhan yang baik untuk diterapkan dalam mengasuh gifted children berdasarkan al- Qur‟an. Untuk menjawab rumusan masalah di atas, peneliti menggunakan jenis penelitian library research dengan model penelitian tematik kontekstual. Model penelitian tematik kontekstual ini dianggap paling relevan untuk dapat melihat penggambaran al-Qur‟an tentang pola asuh yang tepat untuk gifted children. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa; Pola pengasuhan yang bisa dijadikan pegangan dalam mengasuh gifted children berdasarkan al-Qur‟an yaitu perlindungan emosional dan sosial melalui senantiasa bersikap lemah lembut da- lam mengasuhnya dalam QS. An/3: 159 dan memberikan fasilitas kepada anak yang dapat mengembangkan potensinya dalam QS. al-Nisa>’/4: 9, keteladanan berakhlak baik dalam QS. al-Nisa>’/4: 8, menerapkan metode critical thinking yang dapat mengasah pola pikirnya QS. Luqma>n/31: 20, menerapkan metode montessori dalam proses pengasuhannya sesuai dengan spirit QS. al- Ru>m/30:30, selain itu hal yang paling penting untuk diajarkan pada gifted children adalah nilai-nilai spiritual. Dalam proses pengasuhan, nilai-nilai spiritual ini sebaiknya juga diterapkan oleh orang tua agar senantiasa sabar dalam menghadapi sikap gifted children sebagaimana dalam QS. Luqma>n/31: 13. Jika metode-metode diatas diterapkan dalam mengasuh gifted children maka akan dapat terjalin kerjasama yang baik antara orang tua sebagai pendidik pertama dan gifted children, sehingga diharapkan dapat meminimalisir permasa- lahan-permasalahan gifted children dan potensi yang dimilikinya dapat teraktuali- sasi dengan baik dan dapat diwujudkan menjadi prestasi. Kata Kunci: gifted children, pola pengasuhan, al-Qur’an, tematik kontekstual.
  • Item
    Penafsiran QS. Saba’/34:18-19 Dalam Perspektif Tafsi>r Maqa>s}idi dan Relevansinya Dengan Fenomena Travelling di Era Modern
    (Repository STAIN MAJENE, 2026-06-09) Yusran Darwis
    Al- Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang berisi firman Allah Swt, diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril. Seiring dengan perkembangan zaman telah banyak bermunculan para penafsir al- Qur’an khususnya dari pemikir muslim, salah satunya Abdul Mustaqim yang menggunakan teori maqa>s}idi> qur’ani sebagai alat untuk menafsirkan al- Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna ayat berdasarkan tafsi>r maqaṣidi> dan mengaitkannya dengan praktik travelling masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis kepustakaan (library research), dengan pendekatan tafsi>r maqa>ṣidi> yang di formulasikan oleh Abdul Mustaqim. Sumber-Sumber yang menjadi rujukan yang di gunakan adalah seperti artikel, buku, dan data-data tertulis lainnya yang berkaitan dengan tema penelitian. Adapun alur tafsir maqasidi yang dirumuskan oleh Abdul Mustaqim adalah mengkaji aspek kebahasaan, aspek historis, dan menemukan maqasid Qur’an serta maqasid al-Syariah dari ayat tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam QS. Saba’/34:18-19 tidak hanya menggambarkan kenikmatan dan kemudahan perjalanan, tetapi juga mengandung pesan maqa>s}id Qur’an yakni:al-Taharrur (pembebasan),alMasuliyyah ( tanggung jawab). Kemudian relevansi dari penelitian ini, 1). Kemudahan dalam melakukan tranportasi, 2).traveelling menjadi tempat pertukaran budaya dan ekonomi, 3). Ancaman bagi orang yang kufur terhadap nikmat yang Allah berikan dalam melakukan travelling, 4).travelling sebagai media refleksi. Selain itu, aktivitas travelling bukan hanya rekreatif saja, tetapi dapat bernilai spritual, moral dan sosial. Implikasi dari penelitian ini ialah melakukan perjalanan pada masa modern saat ini bukan hanya menjadikan travelling sebagai kebutuhan untuk rekreasi, akan tetapi juga mempunyai nilai spritual, nilai sosial, nilai edukatif, dan juga nilai ekonomis. Dengan demikian travelling mampu menjadi alat pengamalam nilai-nilai al-Qur’an, apabila di lakukan dengan tujuan yang baik dan benar berlandaaskan etika islam. Kata Kunci: Tafsi>r Maqa>ṣidi, QS. Saba’/34:18-19, travelling.
  • Item
    Politic of Love Bombing Perspektif Al-Qur’an, Relevansi Atas Pemikiran dan Tafsir Tematik Hassan Hanafi.
    (Repository STAIN MAJENE, 2026-06-09) Awaluddin
    Politik yang manipulatif jelas memberikan dampak negatif pada sistem kenegaraan tetapi juga berdampak pada masyarakat yang bisa saja ikut meyakini sistem politik manipulatif merupakan hal yang wajar. Politic of Love Bombing tidak hanya menjadi sebuah alternatif untuk memberikan minat dukungan terhadap politisi tetapi juga merupakan pengalihan dari sebuah misi politik yang disembunyikan. Melihat problem tersebut peneliti melalui pemikiran Hassan Hanafi mengkritik dan menegaskan tentang stagnasi politik akibat kesalahan pemikiran tradisional yang menyebabkan manipulasi, konflik, ketidakadilan sosial dan marginalisasi. Pembacaan terhadap teks Qur’an bagi Hassan merupakan sebuah alternatif dalam menyelesaikan masalah umat dalam aspek apapun dan tiada batasan dalam ruang dan waktu. Penelitian ini berjudul Politic of Love Bombing Perspektif Al-Qur’an, Relevansi Atas Pemikiran dan Tafsir Tematik Hassan Hanafi. Dengan rumusan masalah: (1) Bagaimana perspektif al-Qur’an terhadap politic of love bombing. (2) Bagaimana relevansi politic of love bombing dalam pemikiran serta tafsir tematik Hassan Hanafi. Penelitian ini termasuk dalam penelitain kualitatif yang menggunakan pendekatan pustaka dalam menggali data dan informasi sekunder ataupun primer yang berkaitan. Adapun pendekatan yang digunakan merupakan langkah penafsiran al- Qur’an yang bersifat tematik yang ditawarkan oleh Hassan Hanafi. Kemudian hasil yang disajikan merupakan hasil penafsiran serta relevansi dan implikasi dari pemikiran Hassan Hanafi terhadap fenomena politik of love bombing. Analisis pada penelitian ini berpusat pada hasil analisis ayat-ayat Qur’an yang diduga memiliki keterkaitan terhadap tema yang diangkat yaitu konsep tawalla> dalam Q.S Al-Baqarah 2:204, Q.S Al-Maidah 5:49, dll yang dikombinasikan dengan analisisis tematik Hassan Hanafi. Adapun hasil analisis yang didapati adalah politic of love bombing merupakan siasat munafik berupa kedekatan yang manipulatif (tawalla>). Pendekatan sematik pada term ini mengarah pada sikap sebaliknya yang ditampakkan atau pada tujuan terselubung yang ingin disembunyikan. Penelitian ini berimplikasi pada pentingnya menyuarakan pencegahan terhadap perilaku manipulasi politik terutama politic of love bombing yang kini marak terjadi akibat kelalaian serta menurunnya sikap kritis masyarakat terhadap tindak- tanduk politik di masa sekarang. Kata kunci: Tematik, Politic of Love Bombing, Hassan Hanafi.