Skripsi Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
1 - 5 of 89
-
ItemPesan Dakwah dalam Tradisi Meuri’ pada Masyarakat Tammerodo Majene (Tinjauan Semiotika Roland Barthes)(Repository STAIN Majene, 2026-07-24)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi meuri’ pada masyarakat Desa Tammerodo, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, serta mengkaji makna pesan dakwah yang terkandung di dalamnya. Tradisi meuri’ merupakan ritual selamatan kehamilan yang dilaksanakan sebagai bagian dari kehidupan adat dan keagamaan masyarakat setempat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif lapangan dengan pendekatan interpretatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan semiotika Roland Barthes dengan fokus pada makna denotatif, konotatif, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan tradisi meuri’ dimulai dari persiapan perlengkapan adat, pembacaan doa-doa tertentu, hingga kegiatan makan bersama sebagai penutup acara. Setiap tahapan dan simbol yang digunakan memiliki makna tersendiri yang berkaitan dengan pesan dakwah. Pesan tersebut mencakup nilai akidah, seperti kepercayaan dan ketergantungan kepada Allah Swt., nilai syariat yang tampak dalam praktik doa, serta nilai akhlak berupa kepedulian sosial, rasa syukur, dan penguatan hubungan kekeluargaan. Pada tingkat mitos, tradisi meuri’ dipahami masyarakat sebagai upaya memohon keselamatan dan keberkahan bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi meuri’ berfungsi sebagai media dakwah kultural yang menyampaikan nilai-nilai Islam secara sederhana dan dekat dengan masyarakat. Oleh karena itu, tradisi ini perlu dipahami dan dilestarikan agar tidak berhenti pada praktik seremonial semata. Kata Kunci: Pesan Dakwah, Tradisi Meuri’, Semiotika Roland Barthes, Dakwah Kultural, Masyarakat Mandar.
-
ItemAnalisis Komunikasi Persuasif Dalam Implementasi Program Majene “Mapaccing” Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majene kecamatan Banggae Kelurahan Totoli(Repository STAIN MAJENE, 2026-06-16)Nama : Haerul Amri NIM : 30356119091 Judul : Analisis Komunikasi Persuasif Dalam Implementasi Program Majene “Mapaccing” Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majene kecamatan Banggae Kelurahan Totoli Penelitian ini menjelaskan tentang komunikasi persuasif dalam implementasi program Majene Mapaccing di lingkungan pemerintah Kabupaten Majene Kecamatan Banggae Kelurahan Totoli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi persuasif yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Majene dalam menerapkan program Majene Mapaccing. Penelitian ini diperlukan sebagai upaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mendukung Majene Mapaccing melalui proses komunikasi persuasif. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskripsif kualitatif. Proses pengumpulan data dilakukan dengan beberapa tahap yaitu observasi, wawancara dan analisis data. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Majene Mapaccing yang dilaksanakan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) yaitu dalam bentuk sosialisasi langsung ke masyarakat (kelurahan) dengan melakukan komunikasi persuasif.Pada komunikasi tersebut, implementasi program Majene Mapaccing melalui kegiatan sosialisasi guna memberikan kejelasan informasi agar mudah untuk dipahami seluruh pihak-pihak yang terlibat dalam proses implementasi program Majene Mapaccing. Kata kunci : Komunikasi Persuasif, Implementasi, Majene Mapaccing.
-
ItemDakwah Fardiyah Penghulu Agama Islam Dalam Memediasi Konflik Rumah Tangga (Studi Kasus KUA Kecamatan Pamboang)(Repository STAIN MAJENE, 2026-06-09)Penelitian ini mengkaji tentang dakwah fardiyah yang dilakukan oleh penghulu agama Islam dalam memediasi konflik rumah tangga di (KUA) Kecamatan Pamboang. Fokus utama penelitian ini meliputi kompetensi penghulu sebagai mediator, pelaksanaan dakwah fardiyah, dalam proses mediasi, serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat penerapannya. Tujuan penelitian ini penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana penerapan dakwah fardiyah dalam proses mediasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara semi struktur, dan dokumentasi terhadap informan yang relevan, yaitu penghulu dan pasangan yang pernah dimediasi. Teknik analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan uji keabsahan melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kompetensi penghulu dalam memediasi konflik rumah tangga mencakup tiga kompetensi yaitu kompetensi teknis, manajerial dan sosial kultural, (2) Dalam konteks mediasi, dakwah fardiyah melalui 6 fase yaitu Ta’aruf (perkenalan), Ta’aluf (saling menyayangi), Al Tafahum (saling pengertian), Pengamatan dan pemeliharaan, Ta’awun dan tanashur tolong menolong dan bantu membantu) serta Pengamatan terhadap keimanan Mad’u. (3) faktor pendukung dalam penerapan dakwah fardiyah meliputi kemampuan dan kredibilitas penghulu, serta adanya kesadaran pasangan untuk mempertahankan rumah tangga. Sementara itu, faktor penghambat utama adalah rendahnya komitmen untuk rujuk, kedatangan pasangan yang hanya bersifat administratif sebelum perceraian, serta kuatnya konflik emosional yang telah berlangsung lama. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa dakwah fardiyah memiliki potensi strategis sebagai metode mediasi konflik rumah tangga berdasarkan nilai- nilai keagamaan dan komunikasi antarpribadi. Secara teoritis temuan ini memperkaya Khazanah ilmu dakwah, khususnya pada ranah dakwah antarpribadi dalam konteks resolusi konflik keluarga. Secara praktis, penelitian ini memberikan rekomendasi perlunya penguatan kapasitas penghulu melalui pelatihan mediasi, peningkatan keterampilan komunikasi, serta pengembangan pendekatan mediasi berbasis dakwah agar proses penanganan konflik rumah tangga di KUA dapat berlangsung lebih efektif, prefentif, dan berkelanjutan. Kata kunci: Dakwah Fardiyah, Penghulu, Mediasi, Konflik Rumah Tangga, KUA Kecamatan Pamboang.
-
ItemTradisi Maparrabung Nana‟eke di Boyang Sebagai Media Dakwah Kultural Di Desa Bonde Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar(Repository STAIN MAJENE, 2026-06-09)Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik dan nilai dakwah kultural dalam tradisi Mapparabung Nana‟eke di Boyang pada masyarakat Mandar di Desa Bonde. Tradisi ini merupakan praktik budaya yang dilakukan ketika bayi baru lahir dengan membawa anak ke masjid serta menempatkannya pada ruang-ruang simbolik tertentu sebagai bentuk harapan terhadap masa depan anak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami tradisi lokal sebagai media penyampaian nilai-nilai sosial dan keagamaan di tengah perubahan masyarakat modern. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat, serta dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Mapparabung Nana‟eke tidak hanya dipahami sebagai praktik adat, tetapi juga berfungsi sebagai media dakwah kultural yang menyampaikan nilai kehidupan melalui simbol budaya dan keterlibatan sosial masyarakat. Tradisi ini dimaknai sebagai pengenalan awal anak terhadap lingkungan sosial, penanaman harapan kehidupan, serta penguatan kebersamaan masyarakat. Keterlibatan tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat menunjukkan bahwa kelahiran anak dipahami sebagai peristiwa sosial kolektif yang memperkuat hubungan sosial serta identitas budaya Mandar. Tradisi ini juga berperan dalam pewarisan nilai lokal yang kontekstual dan mudah diterima masyarakat. Namun demikian, penelitian ini menemukan adanya pergeseran pemahaman di sebagian masyarakat yang melaksanakannya hanya sebagai kebiasaan sosial tanpa memahami makna simboliknya secara mendalam. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Mapparabung Nana‟eke memiliki fungsi penting sebagai media dakwah kultural yang menanamkan nilai sosial, memperkuat solidaritas masyarakat, serta menjaga kesinambungan identitas budaya. Oleh karena itu, diperlukan peran tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat dalam menjaga pemahaman makna tradisi agar tetap relevan dengan perkembangan sosial masyarakat. Kata kunci: dakwah kultural, tradisi lokal, simbol budaya, dan Mapparabung Nana‟eke.
-
ItemImplementasi Dakwah Tadbīr dan Taṭwīr di Rumah Qur’an Violet Cabang Majene(Repository STAIN MAJENE, 2026-06-09)Penelitian ini membahas terkait pelaksanaan dakwah tadbīr dan taṭwīr yang dilakukan oleh Rumah Qur’an Violet (RQV) Majene. Adapun pokok permasalahan atau pertanyaan penelitian yakni: 1) Bagaimana implementasi dakwah tadbīr di Rumah Qur’an Violet Majene. 2) Bagaimana implementasi dakwah taṭwīr di Rumah Qur’an Violet Majene. 3) Bagaimana dakwah tadbīr dan taṭwīr di Rumah Qur’an Violet Majene dalam perspektif teori sistem komunikasi organisasi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis penerapan dakwah tadbīr dan taṭwīr serta implikasinya terhadap efektivitas aktivitas dakwah di RQV Majene. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan dokumentasi dengan melibatkan pengurus, relawan serta santri Rumah Qur’an Violet Majene sebagai informan penelitian. Data yang diperoleh dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan dakwah tadbīr di RQV Majene telah berjalan secara sistematis melalui pengelolaan organisasi yang terstruktur. Sementara implementasi dakwah taṭwīr diwujudkan dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat yang berdampak positif terhadap penguatan kelembagaan dan respons masyarakat terhadap kegiatan dakwah. RQV Majene juga dipahami sebagai sistem terbuka dalam perspektif komunikasi organisasi, di mana lembaga ini menerima masukan atau input seperti dukungan masyarakat serta kebutuhan sosial di sekitarnya. Masukan tersebut dikelola melalui komunikasi internal antarpengurus, pembagian peran atau tugas, serta perencanaan program. Proses tersebut kemudian menghasilkan program dakwah pemberdayaan sebagai bentuk output organisasi. Dalam hal ini dakwah tadbīr berfungsi menjaga keteraturan manajemen organisasi sedangkan dakwah taṭwīr mencerminkan kemampuan organisasi dalam menyesuaikan diri terhadap dinamika lingkungan atau kebutuhan masyarakat. Penelitian ini dapat berimplikasi terhadap penguatan tata kelola lembaga dakwah yang sistemastis serta pengembangan program pemberdayaan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.