Skripsi Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
1 - 5 of 96
-
ItemTradisi Panulung Menjelang Pesta Pernikahan Masyarakat Desa Kabiraan Kabupaten Majene Ditinjau Dari Hukum Islam(Repository STAIN MAJENE, 2026-06-08)Nama : Lisnawati.M Nim : 20156122028 Program Studi : Hukum Keluarga Islam (HKI) Judul Skripsi :Tradisi Panulung Menjelang Pesta Pernikahan Masyarakat Desa Kabiraan Kabupaten Majene Ditinjau Dari Hukum Islam Tradisi Panulung merupakan salah satu bentuk praktik adat yang hidup dan berkembang dalam penyelenggaraan menjelang pesta pernikahan masyarakat Desa Kabiraan Kabupaten Majene. Tradisi ini berfungsi sebagai sarana tolong-menolong antara keluarga dan masyarakat guna meringankan beban ekonomi pihak yang melangsungkan pernikahan. Namun dalam praktiknya tradisi Panulung sering dipersepsikan sebagai kewajiban sosial yang berpotensi menimbulkan tekanan dan beban bagi sebagian masyarakat. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: 1) Bagaimana Praktik Tradisi Panulung Menjelang Pesta Pernikahan Masyarakat Desa Kabiraan Kabupaten Majene?, 2) Bagaimana Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktik Tradisi Panulung Menjelang Pesta Pernikahan Masyarakat Desa Kabiraan Kabupaten Majene?. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, aparat desa, dan masyarakat, serta didukung oleh dokumentasi dan studi kepustakaan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan teologi normatif syar‘i khususnya konsep ‘urf dan maqāṣid al-syarī‘ah, serta pendekatan sosiologi hukum melalui teori stratifikasi sosial dan fungsionalisme struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Panulung merupakan praktik tolong-menolong dalam pelaskanaanya dilakukan pencatatan sebagai administrasi dan pengingat sosial melalui pemberian bantuan berupa uang, barang, maupun tenaga tanpa adanya ketentuan nominal tertentu. Tradisi ini berlandaskan nilai-nilai sosial seperti siri’, sikalemui, dan sikasajangi, serta didukung oleh hukum adat tuho yang berfungsi menjaga solidaritas dan keseimbangan sosial masyarakat. Ditinjau dari perspektif hukum Islam tradisi Panulung termasuk dalam kategori ‘urf shahih dan mengandung nilai kemaslahatan sesuai dengan tujuan maqāṣid al-syarī‘ah selama pelaksanaannya tidak disertai unsur paksaan atau kewajiban pengembalian sebagaimana akad utang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, maka peneliti menawarkan solusi yang harus dilakukan sebagai implikasi dari penelitian, yaitu penghapusan pencatatan nominal dalam tradisi Panulung untuk menghindari beban sosial serta mencegah potensi pergeseran makna menjadi kewajiban yang menyerupai utang. Selain itu, diperlukan peran aktif tokoh adat dan tokoh agama dalam menetapkan serta menegaskan norma pelaksanaan tradisi agar terhindar dari unsur paksaan dan praktik yang menyerupai akad utang. Dengan demikian, tradisi Panulung dapat tetap dilestarikan sebagai ‘urf shahih yang sejalan dengan prinsip maqāṣid al- syarī‘ah serta memberikan kemaslahatan bagi masyarakat. Kata Kunci: Panulung, Tradisi Pernikahan, Hukum Islam, ‘Urf, Maqāṣid al- Syarī‘ah, Sosiologi Hukum
-
ItemKedudukan Khulu’ yang Disebabkan Oleh dalam Perspektif Imam Syafi’i dan Imam Hambali(Repository STAIN MAJENE, 2026-06-08)Nama : Muhammad Tasbih Nim : 20156122024 Program Studi : Hukum Keluarga Islam Judul : Kedudukan Khulu’ yang Disebabkan Oleh dalam Perspektif Imam Syafi’i dan Imam Hambali Khulu’ merupakan salah satu bentuk pemutusan perkawinan yang diajukan oleh istri, namun kedudukannya dalam hukum Islam masih menjadi perdebatan di kalangan ulama, khususnya terkait apakah khulu’ dikategorikan sebagai talak atau fasakh. Perdebatan ini menjadi semakin relevan ketika khulu’ diajukan akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), karena berimplikasi langsung pada perlindungan hukum terhadap korban. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses istinbāṭ hukum Imam Syafi‘i dan Imam Hambali yang melatarbelakangi perbedaan pandangan keduanya mengenai kedudukan khulu’, serta menawarkan alternatif pengkategorian khulu’ yang lebih adil dalam konteks KDRT. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan teologi normatif syar‘i dan maslahah mursalah. Data diperoleh dari kitab-kitab fiqhi mu‘tabar karya Imam Syafi‘i dan Imam Hambali serta literatur pendukung lainnya, yang dianalisis secara kualitatif-deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam Syafi‘i memposisikan khulu’ sebagai talak karena menekankan peran kehendak suami, kesamaan lafaz, dan konsekuensi hukum talak bā’in, sedangkan Imam Hambali memandang khulu’ sebagai fasakh karena tidak mengandung lafaz dan niat talak serta didorong oleh sebab yang merusak tujuan perkawinan. Melalui pendekatan maslahah mursalah, penelitian ini menyimpulkan bahwa khulu’ yang disebabkan oleh KDRT lebih tepat dikualifikasikan sebagai fasakh karena lebih efektif menghilangkan kemudaratan dan melindungi korban. Kebaharuan penelitian ini terletak pada tawaran rekonstruksi konseptual khulu’ berbasis sebab, dengan menegaskan bahwa khulu’ sebab KDRT secara takyif fiqhi lebih tepat diposisikan sebagai fasakh demi mewujudkan keadilan substantif dan perlindungan terhadap kelompok rentan dalam hukum keluarga Islam. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti mengusulkan pembagian khulu’ berdasarkan masalah yang terjadi dalam rumah tangga, yaitu antara khulu’ karena ketidakharmonisan biasa dan khulu’ yang terjadi akibat kekerasan atau bahaya serius. Khusus untuk khulu’ yang disebabkan oleh KDRT, hal ini lebih tepat dipahami sebagai fasakh, karena sejalan dengan tujuan syariat, terutama untuk melindungi jiwa dan martabat manusia. Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi hakim di peradilan agama dalam membuat putusan yang lebih adil, tidak hanya secara hukum, tetapi juga secara kemanusiaan. Kata Kunci: Khulu’, Talak, Fasakh, dan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT).
-
ItemAnalisis Tradisi Perkawinan Adat Mandar Toyang roeng Dalam Perspektif Hukum Islam(Repository STAIN MAJENE, 2026-06-08)Penelitian ini mengkaji pelaksanaan tradisi Toyang Roeng dalam adat pernikahan masyarakat Mandar di Lingkungan Buttu, Kelurahan Tande, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, serta menelaah kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip hukum Islam dai segi tahapannya. Toyang Roeng merupakan tradisi turun-temurun yang hanya dilaksanakan oleh keluarga-keluarga yang memiliki garis keturunan tertentu (Mosangana’), dengan bentuk utama berupa ayunan besar dari bambu dan kayu yang digunakan dalam prosesi pernikahan. Tradisi ini diyakini membawa keselamatan dan keberkahan, namun terdapat kepercayaan yang berpotensi bertentangan dengan akidah Islam, seperti anggapan bahwa tidak melaksanakannya akan mendatangkan malapetaka. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan teologi normatif syar’i dan antropologi, serta teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara budaya, tradisi Toyang Roeng memiliki nilai simbolis dan sosial yang kuat dalam mempererat ikatan kekeluargaan. Dari segi praktek dalam setiap tahapan dalam tradisi ini tetap sejalan dengan syariat terlepas keyakinan yang mengiringi pelaksanaannya yang mengandung unsur takhayul dan dapat menyimpang dari ajaran tauhid dalam Islam. Berdasarkan hasil penelitian tersebut Selain itu, tokoh agama memiliki peran penting dalam memberikan edukasi akidah yang benar kepada masyarakat dengan pendekatan yang bijak dan kontekstual agar masyarakat mampu membedakan antara budaya yang bersifat mubah dengan praktik yang menyimpang dari tauhid. Masyarakat juga diharapkan dapat melestarikan budaya lokal secara proporsional dengan tetap menjadikan agama sebagai landasan utama dalam menilai suatu tradisi. Oleh karena itu, peningkatan literasi keagamaan sangat diperlukan agar tradisi dapat dimaknai secara bijak dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Syariat Islam
-
ItemTinjauan Hukum Islam dan Hukum Positif Terhadap Praktik Perkawinan Poliandri di Desa Lekopadis Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar(Repository STAIN MAJENE, 2026-06-08)Peneitian ini membahas tentang 1) Bagaimana Praktek Poliandri di Desa Lekopadis Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar, 2) Bagaimana Tinjauan Hukum Islam dan Hukum Positif Terhadap Praktik Perkawinan Poliandri di Desa Lekopadis Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar Penelitian ini menggunakan penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode penelitian studi kasus dengan tujuan untuk mendapatkan data dan gambaran yang jelas pada permasalahan yang terjad di lokasi penelitian. Sumber data yang digunakan bersumber dari hasil observasi, wawancara, dengan informan yang melakukan praktik Perkawinan Poliandri. Serta menggunakan pendekatan penelitian Perundang-undangan, Teologi Normatif Syar‟i dan Pendekatan Sosiologis Hukum. Hasil penelitian menujukkan bahwa praktik perkawinan poliandri terjadi akibat Ibu A melangsungkan perkawinan kedua dengan Bapak K, sementara Ibu A masih terikat perkawinan dengan Bapak PR tampa adanya perceraian baik secara agama maupun melalui Putusan Pengadilan. Dalam perspektif hukum Islam, perkawinan kedua tersebut dinyatakan tidak sah karena bertentangan dengan larangan menikahi perempuan yang masih bersuami sebagaiman diatur dalam Al- Qur‟an dan hadis. Sementara itu, menurut hukum positif praktik tersebut melanggar asas monogami sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Perkawinan tersebut berpotensi menimbulkan pertanggungjawaban pidana berdasarkan pasal 402 Undang-undang No 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Implikasi pada penelitian ini menunjukkan bahwa praktik poliandri menimbulkan konsekuensi hukum bagi para pihak baik suami pertama sebagai pihak yang dirugikan dan berhak atas perlindungan hukum. Bagi pelaku, berpotensi dikenai saknsi hukum. Selain itu, penelitian ini menegaskan pentingnya peran pemerintah desa dalam mencegah praktik perkawinan yang melanggar hukum serta memberikan kontribusi akademik bagi pengembangan kajian hukum keluarga Islam dan Hukum Nasional.
-
ItemStilistika pada Kisah Talut dan Jalut dalam al-Qur’an(Repository STAIN MAJENE, 2026-06-03)ABSTRAK Nama : Zulkifli NIM : 30156121022 Prodi : Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Judul : Stilistika pada Kisah Talut dan Jalut dalam al-Qur’an Al-Qur’an merupakan mukjizat kebahasaan yang tidak hanya mengandung ajaran teologis dan hukum, tetapi juga menyajikan kisah-kisah dengan keindahan gaya bahasa yang tinggi. Salah satu kisah yang menarik dikaji dari perspektif stilistika adalah kisah Talut dan Jalut dalam QS. al-Baqarah/2: 246–252. Kisah ini mengisahkan peperangan antara pasukan Bani Israil di bawah kepemimpinan Talut melawan pasukan Jalut yang zalim, dan di dalamnya terkandung berbagai keunikan linguistik yang belum banyak dikaji secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi unsur-unsur pembentuk kisah Talut dan Jalut sekaligus menganalisis stilistika pemaparan dan gaya dialog yang digunakan. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan stilistika al-Qur’an. Sumber data primer adalah QS. al-Baqarah/2: 246–252, yang ditunjang oleh kitab-kitab tafsir bercorak luga>wi>. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi dengan metode searching and browsing. Analisis data mengacu pada empat level stilistika, yaitu: al-mustawa> al- s}arfī (morfologi), al-mustawa> al-dala>li> (semantik), al-mustawa> al-tarki>bi> (sintaksis), dan al-mustawa> al-tas}wi>ri> (imajeri). Hasil penelitian menunjukkan sejumlah keunikan stilistika. Pada level morfologi, ditemukan pemilihan bentuk fi’il mud}a>ri‘ pada kata تِ ْ ؤ ُ yang ي mempunyai maksud mendalam, serta penggunaan ism nakirah pada kata كاً ِ ل yang م menyimpan ironi tersembunyi. Pada level semantik, terdapat ketepatan diksi melalui pemilihan sinonim bermuatan makna berbeda, seperti ى أ ل ى ,ر ت ْ ث dan ,اب ع ,ب serta fenomena musytarak al-lafz} al-mutad}a>d pada kata نَّ ظ. Pada level sintaksis, ditemukan struktur al-taqdi>m wa al-ta’khi>r, id}ma>r, dan qas}r yang berfungsi memberikan penekanan makna. Sementara pada level imajeri, kisah ini kaya akan maja>z mursal, kina>yah, isti‘a>rah, dan ti}ba>q yang memvisualisasikan kondisi psikologis tokoh secara mendalam. Kisah disajikan tanpa pendahuluan formal dengan dialog dinamis, menggambarkan kondisi historis Bani Israil sekaligus memberikan motivasi spiritual bagi umat Islam. Penelitian ini berkontribusi memperkaya pemahaman estetika al-Qur’an beserta dimensi teologis dan edukatifnya, serta menjadi rujukan bagi pengembangan studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir. Kata Kunci: Stilistika, Kisah Talut dan Jalut, al-Qur'an, Gaya Bahasa.